Hari Rabu tanggal 29 Juni 2011 sebenarnya tanggal merah, tapi pertemuan GIBASA tetap diadakan. Karena ketiadaan tempat, maka pertemuan keempat ini diadakan di kantor GIBASA di jalan Awibitung nomor 50 Bandung. Sekaligus untuk memperkenalkan kantor GIBASA.
Saya pergi kesana dengan teh Putri. Kami mampir ke kampus Unibi dulu, sayang teman teh Putri tidak jadi datang kesana, jadi kami berputar-putar. Awalnya agak bingung mencari jalannya, tapi untung ada teh Putri. Kalau saya pergi sendiri, bisa-bisa saya sampainya besok.
Oke lanjut. Di depan gang masuk ke jalan Awibitung, ada teman teh Putri, teh Vanti yang sudah lebih dulu datang. Kami naik motor bertiga dan berhenti di depan kantor GIBASA. Di dalam, sudah ada beberapa rekan-rekan senior yang sedang bermain. Kami pun duduk. Awalnya, hanya ada saya, teh Putri, teh Vanti, kang Agni, dan rekan-rekan senior saja. Kemudian yang lain datang ketika tengah-tengah sesi pertama. Saat itu hujan deras, sehingga cuaca cukup dingin. Kami duduk berimpitan di dalam ruangan. Suasanya berlangsung cukup ramai dan nyaman.
Pertemuan dimulai dengan menggambar pemandangan alam di atas kertas. Yang biasanya pasti pemandangan gunung lagi, dua, dengan jalan di tengah-tengah. Tapi saat itu saya menggambar yang lain. Sebuah pohon di pinggir, dengan sungai. Berbeda sih, tapi tetap saja ada pohonnya. Karena mendengar kata alam, saya langsung menggambar seperti itu. Hal ini disebut paradigma. Kata kang Adi, karena dari dulu dibilang kalau pemandangan alam itu pasti gambar gunung yang dua tadi, kita menggambarnya seperti itu, atau tidak jauh-jauh dari itu. Padahal pemandangan alam apa saja yang ada di sekitar kita juga termasuk di dalamnya. Misalnya gambar kang Agni yang menggambarkan seorang perempuan yang sedang sholat. Melihat gambar yang lain beda-beda, saya jadi malu sendiri. Karena paradigma saya masih sama. Padahal zaman berubah, dan di dalam perubahan zaman, perubahan dalam diri juga diperlukan supaya kita bisa maju.
Soal kedua pun diberikan. Ada sembilan titik. Tiga di kiri, tengah, dan kanan. Dari sembilan titik itu, kita harus menghubungkan semuanya tanpa terputus dengan empat tarikan garis. Teh Vanti dapat memecahkannya dengan memindahkan titiknya. Memang bukan itu sih jawabannya, tapi setidaknya dia bisa kreatif memikirkan cara yang lain. Saya masih berkutat dengan soal sampai pemecahannya diberikan di layar komputer. Ternyata kita boleh menarik garis sampai melewati barisan titik tersebut. Saya tidak bisa menjelaskannya secara spesifik disini. Pokoknya kesembilan titik itu akhirnya bisa disambungkan dengan empat tarikan garis tadi.
Berikutnya, masih sembilan titik tadi, tapi kali ini semuanya harus dihubungkan dengan tiga tarikan garis. Saya mencoba melengkungkannya, tapi ternyata bukan itu jawabannya. Kita harus menarik garis lurus, horizontal dari titik pertama hingga titik terakhir, seperti huruf z, sehingga walaupun hanya mengenai sedikit titiknya, semua titik tersebut tetap terkena garis. Terakhir menghubungkan dengan satu garis saja. Kali ini dengan kuas lebar lalu sapu semua sembilan titik sehingga tertutupi. Memecahkan masalah seperti itu membuat kita harus berpikir thinking out of the box. Kita harus berpikir cerdik, melihat segala kemungkinan dari berbagai macam sudut untuk bisa memecahkan masalah tersebut. Saya sering sekali berpikir kalau saya tidak bisa, baru ketika diberikan pemecahan masalahnya saya akan berkata “ooh… begitu caranya”. Saya harus mengubah cara pikir saya. Saya harus berpikir kalau saya bisa.
Yang ketiga, menulis komitmen dengan tangan kanan dan kiri. Ketika menulis dengan tangan kanan, biasa-biasa saja. Tetapi ketika menulis dengan tangan kiri, tulisannya menjadi sedikit artistik. Respon terhadap perubahan cara pemakaian tangan untuk menulis ini beragam. Respon yang ditunjukkan katanya menunjukkan bagaimana sikap kita terhadap suatu perubahan. Awalnya respon yang negatif lebih banyak daripada yang positif, sementara yang netral hanya dua. Setelah itu kang Adi menanyai kami, sehingga respon yang positif lebih banyak daripada yang negatif.
Setelah tiga sesi itu, kami mengambil waktu break sejenak. Yang diisi dengan makan pizza yang dibawa oleh teh Yusni ( makasih teteh : > ) Setelah makan kami mengobrol sejenak. Saat itu hujan sudah mulai berhenti dan hanya menyisakan gerimis-gerimis kecil di luar. Kang Adi dan kang Rifki pun melanjutkan materi mengenai trainer. Sementara yang lain bertanya, saya mendengarkan. Ketika ditanya, saya tidak tahu harus berkomentar apa. Saya memang tidak bisa berbicara kalau ditanya langsung, saya selalu memikirkan kata-kata yang ingin saya ucapkan. Sayangnya, ketika ada giliran saya untuk berbicara, saya tidak bisa berbicara dengan lancar. Hal yang harus saya rubah juga.
Di akhir acara, setelah tanya jawab, feedback, dan cerita-cerita lainnya, kami berpamitan satu sama lain. Hujan sudah berhenti dan matahari sebentar lagi akan terbenam. Tapi saya, teh Putri, dan teh Vanti tinggal sejenak untuk bermain dengan yang lain. Teh Vanti menunggu untuk dijemput orangtuanya, dan teh Putri menemani. Setelah agak lama, kami baru pulang. Di tengah jalan, hujan kembali mengguyur, dengan cukup deras pula. Sehingga teh Putri menepi hingga hujannya tidak sederas tadi. Setelah agak reda, kami melanjutkan perjalanan. Teh Putri bilang kalau dia sudah biasa pulang agak larut karena mengerjakan tugas-tugas kuliah. Saya membayangkan kalau saya sudah semester tiga nanti, dan tugas-tugas yang menanti saya. Dan saya harap saya akan menyikapinya dengan respon positif dan semangat yang besar.
Akhir kata, sampai disini dulu tulisan saya kali ini, dan sampai jumpa lagi di tulisan saya yang berikutnya.
Dengan hormat, Galuh Mentari Hardanis.
Juni 2011, Buah Batu, Bandung.
Pertemuan ketiga GIBASA diadakan di ruang 409 Unisba. Saya terlambat datang, tapi untung acaranya belum dimulai. Kami mulai jam setengah dua lewat. Cukup banyak yang datang saat itu. Kami mengobrol sebelum acara dibuka oleh kang Saeful. Kami duduk di kursi membentuk huruf U, lalu kang Saeful bertanya pada kami. Pertanyaan pertama, siapa nama presidan Amerika. Saat itu semua orang bisa menyebutkan namanya, tetapi ketika ditanya siapa wakilnya kami berpikir terlebih dahulu. Saya tidak tahu karena tidak pernah mencari tahu sebelumnya. Tapi setelah mendengar kata-kata kang Saeful, saya jadi berpikir kalau menjadi orang nomor dua itu kadang-kadang bisa dilupakan, jadi kami harus berusaha menjadi orang nomor satu. Dan mencari tahu itu baik, untuk mengetahui hal yang penting maupun yang biasa, karena bisa menambah wawasan kita.
Kemudian materi diberikan. Ada banyak yang terlihat di film mengenai materi tersebut. Dari rekaman-rekaman itu, saya tahu kalau berbagai macam game yang diberikan itu ada gunanya, tapi saya tidak tahu secara pasti kecuali apa yang saya persepsikan, yang mungkin berbeda dari yang orang lain pikirkan.
Ada berbagai macam game, beberapa diantaranya sudah pernah saya mainkan dan beberapa lainnya belum. Game-game ini ditahapkan ke beberapa bagian. Yang pertama adalah tahap Unfreezing. Unfreezing adalah saat pencairan suasana. Selain untuk melupakan suasana yang kami bawa dari tempat yang sebelumnya, permainan di tahap ini bisa menyatukan kami semua.
Setelah itu ada tahap Adaption, atau Ice Breaking. Adaptasi di dalam kelompok-kelompok baru yang dibentuk saat permainan. Kelompok-kelompok kecil ini akan bersatu untuk memecahkan tugas atau game yang diberikan. Hal ini berlanjut ke tahap Moving Stage, dimana pemecahan masalah inti akan dipecahkan. Jadi suatu masalah atau konflik yang ada, diharapkan keluar pemecahannya sesuai yang diinginkan di akhir nantinya.
Terakhir ada tahap Refrezing, dimana komitmen terjadi. Untuk menyatukan apa yang sudah dilakukan, dari game-game yang telah diberikan, dan pemecahan masalah sudah ada, maka dibutuhkan komitmen agar sifatnya lebih mengikat.
Game yang diberikan akan berbeda sesuai dengan masalah atau konflik yang terjadi, dan pemecahan yang diinginkan diharapkan akan terjadi setelah game-game itu diberikan.
Sebenarnya, saya ingin menulis lebih banyak mengenai berbagai macam game ini, hanya saja karena rentang waktu terjadinya pertemuan ketiga dengan ditulisnya post ini sudah cukup jauh, saya jadi lupa dengan apa yang mau saya tuliskan. Saya akan menyimak lebih baik lagi lain kali.
Akhir kata, saya minta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan saya. Dan sampai jumpa lagi di tulisan saya yang berikutnya.
Dengan hormat, Galuh Mentari Hardanis.
Juni 2011, Buah Batu, Bandung.
Pertemuan kedua GIBASA Learning Society diadakan di halaman balaikota Jl. Merdeka pada hari Kamis 2 Juni 2011. Pertemuan diadakan jam 8. Setelah kami berkumpul pertemuan pun dibuka. Setelah pembukaan, diadakan permainan berupa main satu setengah, 2 3 4, dan putar-putar lingkaran. Main satu setengah yaitu saat Kang Adi mengucapkan jumlah angka dan kami bertepuk tangan sesuai jumlah angka tersebut. Kalau dibilang setengah maka kami menirukan suara kucing kejepit seperti “ngik”. Ada beberapa teman yang salah, dan hal itu membuat kami tertawa. Suasana pun menjadi cair dan penuh semangat. 2 3 4 yaitu membentuk kelompok sesuai angka tersebut. Dua adalah saat berpasangan untuk berdansa, tiga membentuk lampu lalu lintas (dengan mimik muka yang lucu) dan empat saat kami membentuk sebuah bunga yang kuncup kemudian mekar. Setelah itu kami berputar-putar di dalam lingkaran besar sambil menyanyikan sebuah lagu, dan membentuk kelompok sesuai angka yang akan disebutkan. Dari beberapa kali melakukan putar-putar lingkaran itu, kami membentuk empat kelompok yang beranggotakan 6 orang di masing-masing kelompok, ditemani seorang fasilitator dari rekan-rekan berseragam.
Mengambil istilah dari Psikologi, kelompok saya diberi nama Persona. Dan ditemani kang Bayu kami membuat sebuah yel kelompok dan gerakan untuk Human Machine, dimana kami berpura-pura menjadi sebuah mesin dan memeragakan gerakannya. Sebelum membuat yel-yel, kami bermain Toss an Idol Name, dengan menggunakan baterai kami memeragakan idola kami lalu melemparkan baterai itu ke teman selanjutnya. Saya masih grogi ketika melakukan permainan ini, yang menyebabkan saya terlihat kikuk di hadapan teman-teman.
Lalu saatnya pertunjukan. Kami berkumpul lagi, dan masing-masing dari keempat keompok memeragakan yel-yel dan Human Machine yang telah dibuat. Ada kelompok Hysteria, Psycho Star, So Nice, dan Persona. Pertunjukkan berlangsung seru. Persona menyanyikan yel-yel dengan theme song lagu Chaiya-Chaiya, dan membuat sebuah Mixer, lengkap dengan gerakan mengaduk adonan.
Setelah pertunjukan, kami duduk lagi dalam kelompok-kelompok kecil sesuai kelompok tadi. Masing-masing orang di Persona, didampingi kang Bayu, menyebutkan lima kekurangan dan kelebihan dirinya. Saya melihat teman-teman di dalam kelompok sudah lancar dalam mengungkapkan pikiran mereka. Ketika giliran saya tiba, saya tidak bisa menyebutkannya secara lancar. Sebelumnya saya sudah menyusun kata-kata di dalam pikiran saya, tapi saya tidak mampu mengungkapkannya ketika giliran saya tiba. Akhirnya saya mengulangi lagi, tetapi belum lancar juga. Kang Adi dan Kang Bayu memberikan feedback, dan saya bersyukur karena mereka memberikan masukan yang membuat saya termotivasi untuk lebih berani lagi dalam mengungkapkan apa yang ingin saya bicarakan.
Setelah itu kami berdiri dan melakukan sesi lain yaitu Selling an Item. Selling an Item adalah saat dimana kami berpura-pura menjadi seorang sales yang harus menjual barang atau produk atau jasa yang ingin kami tawarkan. Selling an Item memerlukan kepercayaan diri, kemampuan untuk speak up, membuka diri, dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain kalau barang yang kita jual itu bagus. Selling an Item dilakukan dua kali, dan saya melakukan yang kedua dengan gestur berbeda, walaupun masih tersendat-sendat, dan hasil yang didapat lebih bagus daripada yang pertama menurut saya.
Saat Ishoma, kami diberi tugas untuk bertanya seputar hidup penjual makanan yang ada disekitar kantor Balaikota. Kelompok Persona memilih soto di dekat masjid diluar kantor balaikota, dan selagi menunggu soto disajikan kami bertanya-tanya. Penjual soto itu bernama Ari, umurnya baru 17 dan dia berjualan soto untuk membantu keluarganya, terutama adik-adiknya yang masih sekolah. Mendengar ceritanya saya berpikir, betapa beruntungnya saya dilahirkan di keluarga saya yang sekarang. Dengan fasilitas yang saya punya, kadang-kadang saya masih malas untuk belajar, padahal banyak orang diluar sana yang kekurangan, dan mungkin mereka berharap seandainya mereka bisa bersekolah. Membayangkan posisinya membuat saya merenung saat kami berkumpul kembali dan menceritakan pada teman-teman di kelompok lain tentang kehidupan seseorang yang kami tanyai saat istirahat tadi.
Setelah itu kami menggerakkan badan lagi melalui berbagai aktivitas. Yang pertama, memindahkan gelas dengan satu jari telunjuk di sebuah gelas berisi air. Kami berenam harus berkosentrasi, bersabar, dan bersatu, sekaligus bergerak cepat untuk sampai ke tempat tujuan di seberang. Kelompok Persona dapat memindahkan gelasnya tanpa tumpah. Setelah itu kami kembali ke seberang, dan berpindah menggunakan empat buah balok. Dua balok panjang serta dua balok pendek yang harus ditempati kami berenam dan memindahkan balok-balok itu selagi kami berada diatasnya untuk sampai ke seberang. Kami tidak boleh menginjak tanah kosong didalam garis tanpa menginjak balok. Kelompok Persona berulang kali gagal, dan mengulang dengan semangat. Akhirnya setelah beberapa kali percobaan kami pun berhasil sampai ke seberang.
Setelah itu kami bermain menyusun lego. Dalam menyusun lego tersebut ada dua oran yang bertindak sebagai komunikator, dua orang sebagai mediator, dan dua orang sebagai eksekutor. Permainan ini adalah untuk menyamakan persepsi dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik sehingga bentuk lego dapat berbentuk sama dengan yang ditutupi di seberang. Bentuk lego kelompok Persona terlihat lebih unik daripada yang lain karena kami mengerjakannya dengan penuh semangat. Sayangnya, sepertinya saya tidak menyampaikan arahan secara baik sehingga lego yang kami buat lebih unik bentuknya. Maafkan saya kelompok Persona…
Setelah sesi permainan berakhir, kami duduk dalam lingkaran besar lagi. Pak Saeful bertanya kemudian memberikan feedback atas apa yang telah kami lakukan seharian ini. Sayangnya, di tengah-tengah sesi ini, hujan besar datang. Awalnya kami melihat titik-titik hujan yang tengah menuju kearah tempat kami duduk, lalu ketika hujan itu datang, kami berlarian kearah gazebo yang ada di taman tersebut. Kami berlindung dari hujan disana, tapi saya, karena sudah basah, mengambil payung dan berdiri dibawah hujan (sebenarnya saya bertanya dalam hati, ngapain juga berpayung ria kalau sudah basah, hehe, tapi karena sudah terlanjur ya sudah sekalian saja, dan memakai payung adalah untuk mencegah diri saya terkena tetesan air hujan lagi, karena hujan itu benar-benar dingin). Saya agak-agak menjadi sendu sekaligus ceria sore itu. Sendu karena hujan datang dan acara jadi selesai, dan ceria karena saya mendapatkan pelajaran baru hari ini di pertemuan sesi kedua GIBASA Learning Society. Saya belajar banyak, lagi, dan tidak sabar menerapkan aplikasinya dalam kehidupan saya sehari-hari. Semoga kedepannya saya bisa menjadi orang yang lebih baik daripada saya yang sekarang ini. Amin.
Akhir kata, sampai disini dulu tulisan saya kali ini, dan sampai jumpa lagi di tulisan saya yang berikutnya.
Dengan hormat, Galuh Mentari Hardanis.
Juni 2011, Buah Batu, Bandung.
Pada hari rabu tanggal 25 Mei 2011, jam 15.00, saya datang ke depan ruang 409 di lantai empat Universitas Islam Bandung. Saat itu adalah pertemuan pertama Psikologi Bagi Bangsa, atau disingkat Gibasa, angkatan kedua. Psikologi Bagi Bangsa adalah perkumpulan yang berasal dari berbagai macam universitas, yaitu Unisba, Unpad, UPI, Pasim, dll. Saya berasal dari Unisba, jurusan Psikologi angkatan 2010.
Di depan ruang 409 itu, sudah ramai oleh teman-teman Gibasa yang senior, mengenakan seragam berwarna hijau tua kecoklatan. Mereka semua laki-laki. Saya mengisi daftar kehadiran lalu duduk di kursi di depan ruangan itu. Di sebelah saya, ada dua perempuan yang juga sudah datang, bernama teh Dessy dan teh Yusni. Mereka berdua berasal dari Pasim. Saya pun mengobrol bersama mereka.
Pertemuan seharusnya dimulai jam 15.30, tapi ketika jam setengah empat datang yang hadir baru kami bertiga saja. Untungnya tidak beberapa lama kemudian datang teman-teman yang mendaftar Gibasa angkatan dua. Mereka mengisi daftar kehadiran, kemudian kami pun masuk ke dalam ruangan itu.
Di dalam ruangan yang kursi-kursinya sudah dipinggirkan ke samping, kami duduk. Di atas kursi. Saya berkenalan dengan teh Dina, psikologi Unisba angkatan 2008, yang duduk di sebelah kiri saya. Lalu datang kang Helmi dan kang Adi. Kang Adi mengajak kami bermain menirukan Brad Pitt. Kami berdiri dari kursi. Dia membuat beberapa gerakan dan menyuruh kami untuk mengikutinya. Setelah itu seorang lain akan menirukannya di depan, di hadapan kami semua. Untuk beberapa saat, gerakan-gerakannya salah, maka kang Adi mengulanginya lagi dalam gerakan lambat. Tetapi ketika ditirukan lagi masih salah. Saya baru tahu kalau ternyata harus melihat tangan kirinya, bukan tangan kanannya yang memeragakan gerakan itu. Karena terlalu terfokus melihat tangan kanannya, saya tidak melihat tangan kirinya. Akhirnya ada orang yang berhasil menirukan gerakan itu dengan baik. Dan di akhir, kang Adi memberitahukan apa yang seharusnya juga ditiru, yaitu gerakan tangan kirinya. Permainan itu menyenangkan. Membuat saya berpikir, saya harus melihat hal-hal yang kecil juga, yang tidak terlalu terlihat. Karena itu penting, walapun kecil, tanpa satu gerakan itu, rangkaian gerakan lainnya tidak akan sama.
Bukan hanya apa yang terlihat di depan mata, tapi hal-hal kecil yang sebelumnya tidak terlalu terlihat pun akan terlihat pentingnya kalau kita memperhatikan hal itu dengan baik.
Lalu ada permainan yang lain lagi. Kami harus menghafal nama lengkap dan biodata orang lain yang berbeda universitas dengan kita, lalu kita harus memperkenalkannya pada dua orang lain yang tergabung dalam satu kelompok. Maksudnya kita yang memperkenalkan teman kita pada yang lain. Saya berpasangan dengan teh Dessy. Kami bertanya nama lengkap, nama panggilan, saudara, dan sebagainya. Saya lupa menanyakan tanggal lahirnya.
Kemudian kami membentuk satu kelompok baru dengan teh Yusni dan kang Kresna. Saya memperkenalkan teh Dessy pada teh Yusni dan kang Kresna berdasarkan apa yang kami berdua hafalkan tadi. Lalu teh Dessy memperkenalkan saya. Teh Yusni memperkenalkan kang Kresna dan kang Kresna memperkenalkan teh Yusni.
Lalu kami berempat bergabung dengan empat orang lainnya, dan kami kembali mengulangi hal tadi, memperkenalkan rekan kita pada orang lain di dalam kelompok. Kami berdelapan, kemudian bergabung dengan delapan orang lain. Saat itu kami memperkenalkan diri sendiri dengan menyebut nama, asal universitas, serta tahun angkatan masing-masing. Saya bisa menghafalkan sebagian besar nama karena sebagian adalah senior-senior saya di Unisba. Tapi itu belum semua.
Ada kelompok lain, yang juga berisi 16 orang lebih. Kemudian kami berenam belas bergabung dengan lingkaran 16 orang di sebelah kami. Jadi ada 32 orang lebih di dalam lingkaran besar itu. Teh Uri, dari Unisba angkatan 2008, menjadi wakil kelompok kami dalam memperkenalkan masing-masing orang di dalam kelompok kami. Saya agak malu karena sebagian besar adalah senior-senior saya di Unisba, untungnya ada anak angkatan 2010 juga di sisi lain, tapi saya belum berkenalan dengannya.
Kelompok lain juga diwakilkan dan dia memperkenalkan masing-masing anggota kelompoknya. Saat itulah memori saya macet. Saya kesulitan menghafal nama 16 orang itu, kecuali beberapa diantaranya yang sudah saya kenal. Saya mengingat-ingat, tapi sepertinya ingatan saya yang ini masuk ke dalam memori jangka pendek, karena kemudian saya lupa lagi. Nanti kalau ada pertemuan Gibasa lagi, saya akan menghafal nama-nama yang lain yang belum saya kenal. Saya ingat wajahnya, tapi tidak ingat namanya. Nama adalah identitas seseorang, sebelum mengenal orang tersebut lebih jauh, pastilah kita pertama kali bertanya siapa namanya. Dengan nama, kita akan membuat sebuah perkenalan baru. Alangkah senangnya kalau seseorang ingat nama kita walaupun berkenalan secara singkat.
Kemudian kami menuliskan nama-nama yang kami ingat diatas selembar kertas. Sebuah kuis dalam waktu lima menit. Nama lengkap, nama panggilan, dan asal serta tahun angkatannya. Saya hanya bisa menulis 16 nama, itupun tidak lengkap namanya semuanya. Saya hanya ingat nama panggilannya saja. Teh Uri mampu mengingat lebih banyak.
Kemudian pak Saeful, bersama-sama teman Gibasa yang berseragam duduk di depan. Kami semua lalu duduk di bawah. Saat itu kami mendengarkan penjelasan tentang Gibasa, visi misi, dan sebagainya. Ada sesi tanya jawab juga.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul enam, kami bersiap-siap untuk pulang. Hari itu saya belajar banyak dari Gibasa. Saya belajar untuk memperhatikan hal-hal kecil, dan saya belajar untuk mengoptimalkan memori saya dalam mengingat data diri orang. Pertemuan itu menambah wawasan saya, dan menambah teman baru. Saya belajar banyak hal dari mereka, dan akan belajar banyak hal baru lainnya. Awalnya saya gugup berkomunikasi dengan orang yang lebih tua, tapi sepertinya kegugupan saya akan menghilang seiring berjalannya waktu. Saya tidak sabar menunggu pertemuan-pertemuan Gibasa di lain hari, yang akan saya tuliskan di tumblr saya. Selain karena hal ini adalah tugas individual yang diberikan, saya juga belajar menulis dari kegiatan ini. Oleh karena itu, saya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, karena saya hanyalah seseorang yang baru belajar hal baru dalam penulisan. Saya juga minta maaf apabila saya salah menuliskan rangkaian huruf dalam nama-nama yang telah saya sebutkan.
Akhir kata, sampai jumpa lagi di tulisan saya yang berikutnya.
Dengan hormat, Galuh Mentari Hardanis.
Mei 2011, Buah Batu, Bandung.